Kidung Juli

130782

Menjelang sore, perempuan itu mengeluh kesakitan sehabis berpergian. Mungkin sudah waktunya. Tak lama kemudian dia diantar oleh suaminya ke bidan. Benar, waktunya sudah tiba. Seorang pria berhasil dilahirkan. Kelahiran di saat senja pasti membawa kebahagiaan bagi mereka. Kidung kelahiran bergema.

120705

Saat fajar seorang lelaki tetap terjaga di pembaringan sejak semalam. Sedikit terlihat cemas. Anggota keluarga yang lain mulai mendekat. Membisikan doa di telinga lelaki itu. Wajahnya mulai terlihat tenang. Pria dan Wanita dengan jubah putih ikutan mendekat. Mereka berbisik, “waktunya sudah tiba”. tekanan darah  lelaki itu mulai menurun. nafasnya pun perlahan menghilang. Tangis pun pecah. Kidung kematian bergema.

130709

Ada banyak doa. terima kasih. permintaanku sederhana saja. aku ingin kamu lekas pulang. Kidung kerinduan bergema.

240709

Ibu muda itu tidak terlihat cemas sama sekali. Padahal waktunya sudah sebentar lagi. Pengalaman mungkin telah memberikan ia pelajaran yang berharga. “santai saja”. Sekitar pukul sepuluh pagi, anggota keluarga baru pun lahir. Berjenis kelamin lelaki denga bobot 3,13 Kg dan panjang mendekati 4 Cm. Selamat dan kidung kelahiran bergema lagi.

carpe diem

Comments (2) »

Selamat Jalan Atta

Sebenarnya aku kesulitan untuk menemukan judul yang cocok untuk tulisan ini. Judul di atas akan sangat mudah disalahartikan seolah-olah sebuah bentuk perpisahan. Padahal tidak demikian. Tulisan ini adalah bentuk lain dari doa. Doa untuk seorang kekasih yang akan melakukan sebuah perjalanan.

Sejak awal kita bertemu, aku sangat yakin bahwa suatu saat titik ini akan datang. Kamu, dengan cita-cita yang tinggi serta kemampuan yang yahud, pasti akan mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan studi di negeri orang. Ditambah lagi kegemaranmu untuk menjelajah tempat-tempat baru, jadilah sebuah kombinasi yang cocok dalam dirimu.

Melakukan perjalanan merupakan sesuatu yang melekat pada dirimu. Kamu mungkin tidak seperti Santiago, penggembala dalam cerita pendek Paulo Coelho yang menjelajah Andalusia karena tidak percaya bahwa mempelajari Tuhan hanya melalui seminari atau seperti McCandless, tokoh fiktif dalam film Into The Wild yang melakukan perjalanan untuk mencari otentitas dalam hidup. Kamu hanya percaya bahwa dunia ini amat luas sehingga sangat mubazir jika kamu tidak mengunjunginya. Dengan kata lain, kamu adalah orang yang bersyukur. Perjalanan adalah cara kamu bersyukur sekaligus  menyusun mosaik hidup yang kamu impikan.

Aku ingat bagaimana masa-masa di Solo dulu akhirnya mengantarkan kamu pada sebuah epifani dalam hidup. Juga beragam cerita perjalanan yang kamu tuturkan penuh dengan bahagia. Toh, setiap manusia memiliki caranya masing-masing dalam memperoleh hikmah dan aku pikir kamu mendapatkanya melalui perjalanan.

Perjalananmu kali ini aku kira akan sangat dahsyat. Akumulasi dari cita-cita, usaha dan doa. Saat pertama kali aku mendengar kamu mengucapkanya, aku sempat kaget. Akan tetapi di atas itu semua, aku bersyukur bahwa kamu berhasil mendapatkan kesempatan itu dan semoga kamu mampu mencuri kembali hikmah-hikmah yang telah hilang, seperti apa yang pernah diucapkan seorang aulia.

Ada sebuah kutipan menarik pada saat aku membaca cerpen Santiago, biar aku tuliskan di sini:

“…dan dia tahu bahwa para penggembala, seperti juga pelaut dan pedagang keliling, selalu menemukan sebuah kota di mana ada seseorang yang bisa membuat mereka melupakan kesenangan mengembara tanpa beban.”

Aku tahu kamu bukan Santiago, dan aku juga paham bahwa perjalanan kamu kali ini tidak sepenuhnya untuk bersenang-senang. Namun, aku hanya ingin berkata bahwa aku menunggumu di kota ini. Berdoa agar kamu baik-baik saja di sana dan tidak kekurangan apapun.

Selamat jalan Atta, aku yang mencintaimu

carpe diem

Comments (2) »

Jejak dan Internet

jejak

jejak

Entahlah. Apakah kita harus mensyukuri atau tidak kehadiran internet?. akan tetapi di negeri yang belum ahli dalam pengarsipan data, kehadiran internet cukup memberikan ketegangan. Belum lagi dengan tumbuhnya beragam aplikasi seperti blog dan situs pertemanan. Jadi, bersiaplah, bagi anda yang akrab dengan dunia ini maka jejak anda akan mudah dihadirkan kembali. Sedikit contoh yang dapat ditilik adalah kasus Rani Juliani. Blog sederhananya, cukup membantu untuk mengungkap asal-asul-nya yang sebelumnya tidak pernah diketahui publik.

Setiap orang pasti memiliki masa lalu. Kehadiran internet memudahkan kita untuk melacak jejak masa lalu seseorang. Jejak pendidikan, sejarah pekerjaan, asal-usul keluarga, riwayat mantan kekasih, hingga yang personal sekalipun tersaji dengan apik. Sungguh luar biasa jenis teknologi yang satu ini. Semuanya transparan, tidak ada yang disembunyikan. Bahkan pengalaman seorang sahabat, relasinya menjadi terganggu akibat kehadiran internet.

Bagiku kehadiran internet terkadang cukup menegangkan. Rasa ingin tahuku yang lumayan tinggi untuk menelusuri jejak sesuatu, sangat terbantu.. Tinggal menuliskan nama (sesuatu itu) yang ingin dicari maka Paman Google secara ajaib menyusun data yang berhubungan dengannya dan kejutan-kejutan itu segera berhamburan. “oh…gitu toh”, atau “ternyata dia dulu begini yah” atau “sial…katanya dah gak pernah lagi.

Suatu waktu aku pernah berbincang dengan salah seorang sahabat bahwa internet terkadang sudah terlalu jauh memasuki ranah pribadi. Batas rahasia sudah semakin kabur. Setiap orang dapat melacak jejak kita. Akan tetapi paradoksnya, kita sangat membutuhkan teknologi yang satu ini sehingga sulit rasanya untuk menghindar.

Internet mungkin ibarat cermin, dia bercerita sesuai apa yang didapatkanya (kecuali ada rekayasa). Apa yang pernah kita tinggalkan di dunia itu, suatu saat pasti akan diketahui oleh orang lain dan kita harus bersiap-siap menerima dampaknya.

carpe diem

No comment »

Selingkuh; Sesat-laku atau Sesat-pikir

Malam kian larut, sementara perut minta diisi, padahal kami harus tetap terjaga untuk menjadi saksi sebuah peristiwa sejarah. Untuk itu kami bergegas demi memenuhi kebutuhan dasar sebagai makhluk hidup. Sebuah warung nasi goreng cukuplah bagi kami.

Aku dan seorang sahabat membicangkan banyak hal malam itu. Derasnya obrolan membawa kami pada satu arus yakni membicangkan relasi. Dia berkisah tentang satu-dua teman kami semasa sekolah dulu yang kecewa atas relasi yang mereka jalani. “Mereka dikhianati”, imbuh sahabatku. Aku cukup kaget. Belum lama seorang sahabatku juga dikhianati, dan kini kabar itu datang lagi. Soalnya bagiku adalah pengkhianatan merupakan dosa utama dan terutama dalam sebuah relasi.

Bingkai wacana saat ini yang berkembang adalah pengkhianatan atau selingkuh selalu dilekatkan pada gender tertentu, yaitu laki-laki. Aku pun hampir saja terjebak dalam lubang yang sama. Akan tetapi peristiwa yang terjadi pada sahabatku dan satu-dua temanku memberikan data empirik yang berbeda. Selingkuh tidak dapat diidentikkan dengan jenis kelamin tertentu. Tiap jenis kelamin memiliki potensi yang sama.

Aku percaya bahwa tiap manusia punya potensi yang sama untuk berbuat baik atau berbuat buruk. Tidak peduli dia laki-laki atau perempuan. Selingkuh, yang aku anggap sebagai sebuah keburukan dan kesalahan, juga bisa dilakukan oleh laki-laki maupun perempuan. Jika demikian, kenapa citra buruk tersebut seolah melekat pada laki-laki saja?

Fenomena ini dapat disebut sebagai sesat-pikir. Sesat-pikir secara sederhana dapat diartikan sebagai kesalahan logika dalam mengambil sebuah kesimpulan. Dalam kasus di atas, yang menjadi sesat-pikirnya adalah menilai keseluruhan dengan contoh sebagian. Beberapa peristiwa disimpulkan sebagai kepastian. Istilah umumnya adalah generalisasi berlebih (over-generalisation). Memang terdapat fakta bahwa beberapa laki-laki memang sering melakukan perselingkuhan, tetapi publik terkadang, jika disuguhkan cerita itu, mengambil kesimpulan untuk keseluruhan. Jika cerita itu dikabarkan kepada seorang perempuan, hampir semuanya berpendapat dengan ketus, “laki-laki dimana-mana emang begitu!”. dan apabila yang dimintai pendapat kepada laki-laki, sebagian besar mereka akan senyum-senyum kecil, seolah sesuatu yang alamiah.

Sesat-pikir ini semakin akut ketika wacana tersebut disalurkan melalui beragam media, seperti film, musik, teater dan yang lainnya. Aku sendiri, secara pribadi, sering memprotes jika ada orang yang melekatkan perselingkuhan dengan jenis kelamin. Selain merupakan sesat-pikir, perselingkuhan bagiku juga adalah sesat-laku.

Baik dan Buruk merupakan sesuatu yang melekat dalam kehidupan kita. Dan aku percaya, bahwa kriteria baik dan buruk bisa berubah sesuai konteksnya, tapi tidak untuk benar dan salah. Benar dan salah adalah absolut.

Relasi bagiku adalah sebuah janji. Dan layaknya janji di peradaban manapun, harus ditaati oleh para pihak yang membuatnya (pacta sun servanda). Selingkuh, bagiku, adalah pengkhianatan terhadap janji karena dalam relasi dibutuhkan sebuah kesetiaan. Apabila salah seorang menjalani hubungan dengan orang lain selama masa berhubungan, hampir semua orang dapat menyimpulkan bahwa ia telah berselingkuh. Ia telah melakukan perbuatan yang salah. Akan tetapi setiap orang akan memberikan reaksi yang berbeda; memaklumi, menyesalkan atau bahkan menghujat dan menghakimi, itu perihal pilihan. Bagiku, ia telah sesat-laku, tersesat dalam perilaku yang salah.

Kesulitan yang kami hadapi selama obrolan adalah bagaimana menenggarai pasangan kita telah berselingkuh? Kisah temanku, cukup sekali saja ia mendapati pasangannya jalan dengan teman lelakinya, ia kemudian memutuskan bahwa pasanganya telah berselingkuh dan segera mengakhiri relasi mereka pada saat itu juga. Aku mengajukan protes terhadap cerita itu, “mengapa ia langsung memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka? toh bisa saja jika pasangannya itu ternyata hanya jalan dengan sahabat atau temanya?”. “Ia mengambil putusan tersebut setelah mendapat beberapa indikasi, seperti pasanganya mulai berani pulang malam.” Jawab sahabatku. Ah, alangkah sederhanya indikasi tersebut, gumamku. Kemudian aku cecar lagi sahabatku. “Bagaimana kemudian kita menenggarai indikasi-indikasi pihak yang telah berselingkuh dalam sebuah relasi?”. Kali ini, sahabatku hanya tersenyum.

Perbicangan kami pun terputus sampai di situ sebab peristiwa sejarah yang kami nanti akan segera dimulai.

carpe diem.

No comment »

MacGyver

Macgyver

Macgyver

Generasi 90’an pasti masih ingat dengan serial tv yang mengasyikan ini. MacGyver. Cerita serial seorang tokoh yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata (atau keberuntungan? ). Sebagai seorang bocah sekolah dasar, aku mengagumi kisah dan trik yang disajikan oleh sang tokoh dalam setiap episode. Namun, cerita yang ini berbeda, lebih lucu dan sangat membekas :)
Apa yang bisa diharapkan dari murid sekolah dasar yang biasa-biasa saja sepertiku? Aku hanya bisa bermain dan berkelakar, urusan belajar dan menghafal, itu urusan lain. Tapi orang tuaku (khususnya ayah) punya rencana lain. Ketika anak-anak lain sibuk dengan majalah bobo atau komik, aku malah dicekoki Si Amin, tokoh dalam sampul belakang sebuah majalah Islam. Ada saja alasan yang beliau berikan, sebagian bersifat ideologis. Akan tetapi , apa yang bisa diharapkan dari bocah sekolah dasar sepertiku?

Kisah pun berlanjut. Aku tahu ayahku memiliki pengetahuan yang cukup mumpuni. Mulai sejarah, politik, agama hingga seni (ketertarikanku pada musik dangdut mengalir darinya). Ia gemar membagi pengetahuannya sembari kami menonton bersama. Biasanya, sebagian ceritanya dibumbui dengan nilai-nilai religiusitas. Hingga suatu hari ia bercerita tentang MacGyver pada saat kami sedang asyik menontonya.

“Kalian tahu kalau MacGyver itu orang Islam?”
“Hah…masa sih!” aku tetap asyik memelototi tv.
“MacGyver itu berarti Muhammad Gaffar. Orang-orang barat memiliki penyebutan yang berbeda karena kesulitan pengucapan.”
“oh…gitu.” Mendengar cerita itu, pikiranku langsung mengembara
“Wah…anak-anak pasti gak tau tuh.” pikiran untuk sombong mulai merasuk.

Beberapa hari berselang, aku mulai menyebarkan cerita bahwa MacGyver adalah orang Islam, dengan bumbu di sana-sini, sebagian besar teman sekolah dasar ku mulai percaya. Aku menang, pikirku.

Tiba suati hari, seperti biasa saat pulang sekolah, kami bermain di luar gerbang sekolah. Di sana kami bisa menemukan tukang mainan dan makanan yang berjajar. Aku sangat ingat sebuah lapak penjual mainan yang menjual beragam jenis mainan termasuk poster. Salah seorang temanku melihat poster-poster itu, hingga ia terhenti ketika melihat poster MacGyver.

“Wei,..din, kata lu MacGyver orang Islam?”
“Emang. Iya.” jawab ku seadanya
“Kok di sini namanya Richard Dean Anderson bukan Muhammad Gaffar?”
“Ah yang bener.” dengan panik aku menoleh ke temanku, dan benar saja di poster itu terpampang jelas foto McGyver dengan nama aslinya di bagian bawah; Richard Dean Anderson.
Dan seperti biasa, aku selalu punya jawaban (mau salah atau benar).
“oh iya, Richard Dean Anderson itu memang nama asli yang jadi Macgyver. Tapi nama asli Macgyver itu yah Muhammad Gaffar.”
“oh gitu yah” temanku hanya manggut-manggut gak jelas.

carpe diem

Comments (1) »

Percakapan Hujan (I)

“Hei…lihat. Sepasang manusia sedang memadu kasih. Mari kita ganggu mereka ”

“Ah…Aku sudah tahu. Itulah yang membuatku bimbang.”

“Lho…kenapa?”

“Ada deh…..”

Titik-titik air itu mulai merambat turun. Satu demi satu berhasil mencumbui tanah merah di sebuah taman kota. Aroma khas meruap. Pengunjung taman berhamburan, mencari kanopi atau mahoni untuk melindungi diri. Sejak dahulu selalu ada tanya di dalam benak, mengapa manusia selalu takut hujan tapi tidak kepada air?

Sepasang kekasih tetap berdiam di bangku taman. Sang wanita tampak riang. Sepertinya ia sangat menikmati.

“Aku memesan gerimis ini untuk mu.” tutur sang wanita

Si pria hendak beranjak, tapi genggaman itu membuatnya urung berdiri.

“Gerimis tak akan membuat mu sakit atau terluka, sayang, duduklah.”

Hujan pun tak kunjung berkuasa. Titik-titik air itu mulai berhenti. Langit cerah merebut kembali kekuasaannya…

“Kali ini, aku yang meminta.” tukas sang pria.

“Kenapa?”

“Entahlah, sebenarnya bukan karena aku  takut  hujan, aku hanya kurang percaya saja.”

*******

“Sekarang aku tahu, kenapa kamu sedikit ragu?”

“Apa?”

“Sebab sepasang kekasih itu memiliki dua keinginan yang berbeda.”

“Iya, begitulah.”

“Tapi kenapa akhirnya  kamu putuskan ikut turun?”

“Aku hanya ingin memberi sedikit pelajaran kepada sang pria. Bahwa kita tidak memiliki niat buruk kepadanya. Sebab kita adalah anugerah.”

“….”

carpe diem

Comments (3) »

Sederhana

Kita sudah mengucapkanya. Sebuah janji yang sederhana namun sarat makna. Kata sebagian orang, janji itu mewujud jadi tunggal. Tidak! kita tetap menjadi diri sendiri. Aku Cinta. Kamu Kasih. Cinta Kasih. Meski mewujud sebuah makna, kita tetap memiliki arti tersendiri.

Aku tidak tahu pasti apa perkaranya, mungkin kamu berharap lebih dan aku hanya mampu memberi apa yang ku miliki. Sehingga kamu menjadi lain. Jangan menuntutku untuk memberi lebih, itu tidak mungkin. Melawan hukum alam namanya.

Kita sudah memilih hidup ini. Mari jalani. Aku tahu ada jalan alternatif dalam setiap putusan yang kita ambil. Bagiku, itu bukan opsi. Kamu tahu makna alternatif? tentu kamu tahu. Jalan menyimpang. Ya, meski tujuan yang diharapkan akan sampai, pasti merepotkan. Aku tidak sudi. Mari kita berbicara. Dari hati ke hati dan saling merendah. Jika tidak, petaka pasti tiba dengan segera. Dan kita membenci itu.

Kita terlalu sering menghabiskan waktu untuk sesuatu yang asing. Bukan itu yang kita harapkan sejak semula bukan? Pasti ada peranku di sana, aku akui itu. Akan tetapi kamu, apakah pernah menyadari hal yang serupa? Kamu terlalu sering tenggelam dalam hidup. Terlalu sibuk dengan diri sendiri. Hubungan itu membutuhkan gerak dari dua pihak. Jika hanya aku yang bergerak, aku takut kita akan gagal.

Kita mungkin butuh waktu. Tapi, pasti waktu tidak membutuhkan kita. Aku cinta kamu. Cinta yang sederhana. Aku harap kamu juga dapat memberikan kasih yang serupa. Bagi ku, itu sudah cukup.

Carpe Diem

No comment »

Perempuan di Persimpangan Jalan

Sebelumnya, aku ingin meminta maaf karena telah menjanjikan kepadamu sesuatu akan tetapi khilaf. Bukan lupa atau disengaja. Aku hanya berpikir bahwa waktunya belum tiba. Kamu tentu kecewa. Aku tahu itu. Atas pilihan yang telah kuambil, sekali lagi aku mohon maaf.

Sejak itu kamu berubah. Ada tingkah yang berbeda padahal kita masih searah. Kamu terlihat bahagia dengan aktivitas baru mu; berkumpul dengan teman sejawat, mencari bahan atau sedang mengerjakan tugas. Sedangkan aku, memilih peruntungan ke kota lain. Berusaha dan berharap agar waktu yang kita nanti tiba dengan segera.

Lalu, kamu putuskan untuk rehat sejenak. Aku setuju. Aku pikir, dalam sebuah perjalanan yang panjang, terkadang kita butuh istirahat. Sekedar untuk mengisi perbekalan, menghapus peluh, atau untuk menyusun strategi menghadapi perjalanan berikutnya.

Aku beranjak dari duduk, menjulurkan tangan kepadamu untuk memulai perjalanan berikutnya. Kamu bergeming, hanya memandangiku. Aku mulai cemas, khawatir dan takut. Hingga saat kamu berujar bahwa kamu tidak ingin meneruskan perjalanan. Aku duduk kembali. Bertanya dan berusaha agar kita tetap kuat meneruskan perjalanan ini. Kamu menyerah dan teguh dengan pilihanmu meski alasannya sulit ku pahami. Tapi toh hidup harus terus berjalan. Aku mulai melangkah perlahan sembari menoleh kepadamu mengingat masa-masa kebersamaan kita. Kali ini, aku yang sedih dan kecewa.

Sulit. Iya, bahkan terlalu sulit untuk menyembunyikan kesedihan dan kenangan itu. Sahabat silih berganti hadir. Menghibur dan menemaniku melewati masa sulit itu. Terima kasih kepada kalian semua (hahaha). Aku mencoba untuk ikhlas.

Suatu hari kabar itu datang. Kamu memulai perjalanan baru dengan yang lain bahkan memulainya lebih awal saat kita masih bersama. Aku marah dan kecewa. Aku tersesat dan tidak tahu harus berbuat apa, rasanya seperti tertabrak kereta api. Hancur dan berantakan.

Masa-masa itu berhasil kulewati meski dengan tertatih. Aku juga tidak tahu darimana kekuatan itu kudapat. Namun, alam raya memiliki mekanismenya yang ajaib tetapi aku lebih percaya bahwa orang-orang baik disekitar ku lah yang memberikan kekuatan itu, lagi pula aku sudah berjanji untuk mengikhlaskan semua. Sungguh, menjadi mukhlisin itu sangatlah sulit.

Saat semuanya mulai membaik, tiba-tiba kamu datang kembali. Aku tentu senang. Kita memulainya dari awal, semuanya. Aku menawarkan rencana baru dan kamu menyanggupi. Namun, ada kesalahan utama dan pertama yang kita perbuat. Kita tidak menyelesaikan masalah kita terdahulu. Kita hanya berpura-pura bahwa semua yang telah berlalu sekedar kekhilafan sederhana. Terbukti, rencana kita ternyata semu. Dan saat di persimpangan jalan , kamu kembali memilih arah yang berbeda. Kali ini, aku tidak terlalu sedih dan kecewa seperti saat pertama. Meski aku tahu bahwa kamu ternyata tidak sungguh-sungguh untuk memulainya kembali.

Di sudut malam yang bisu, aku sampai pada sebuah kesimpulan, bahwa mencoba untuk melupakan masa-masa yang telah kita lewati bersama adalah pekerjaan yang bodoh dan sia-sia. Biarlah kenangan itu aku simpan di sudut ruang ingatan, berdebu, lapuk dan secara perlahan tertindih dengan kenangan-kenangan baru yang lebih indah. Dengan cara itu aku percaya bahwa aku pasti akan baik-baik saja.

Carpe Diem

No comment »

Sambal

Aku adalah penikmat sambal. Hambar rasanya jika  makan tak ditemani olehnya. Apapun makanannya, sambal harus ada. Titik. Tapi apa perkara, ternyata rasa  sambal bisa beragam. Di Bandung, contohnya, sangat jarang kutemui sambal yang benar-benar pedas. Bahkan di restoran padangpun rasanya sudah terkontaminasi. Tidak benar-benar pedas. Ajaib. Terbukti, pasar menguasai segalanya :)

Ada satu tempat makan yang sambalnya memenuhi selera. Pecel Lele dekat Unpad. Awalnya, tempat itu merupakan rekomendasi dari teman. Sebenarnya aku sudah kecewa makan Pecel Lele karena hampir setiap tempat yang kusambangi, sambalnya berasa manis. Namun, rekomendasi temanku ini benar-benar cocok. Menu Pecel lele plus Es Teh Tarik instan di siang hari cukup menyegarkan di kota yang sudah mulai meniru Jakarta untuk urusan cuaca.

Sebagai penikmat sambal harusnya aku cocok dengan beragam varian sambal. Ternyata tidak. Suatu waktu aku beserta keluarga makan di sebuah restoran Lombok. Siapa yang tidak mengenal kesohoran Ayam Taliwang. Pedas. Kalau itu aku cocok. Hingga tersuguh di meja makan, Plecing Kangkung yang diatasnya dimbuhi sambal tomat. Melihat bentuknya sungguh menarik selera. Teringat sambal tomat+terasi di rumah atau sambal cong sewaktu pulang kampung ke selatan Sumatera itu. Tapi apa daya, kenyataan beda dengan harapan. Aku mual. Rasanya gak karuan dan mengganggu selera. Aku hentikan memakan sambal itu dan beralih ke Ayam saja.

Pengalaman itu menyadarkanku bahwa aku bukanlah penggemar sambal paripurna. Masih memilih-milih. Bukankah harusnya jika kita menggemari sesuatu maka kita akan menerimanya tanpa reversed. Seperti kecintaanku pada Si Merah meski perjalanan di liga terseok-seok :)

carpe diem

Comments (1) »

Cerita tentang Nama

Lecture : Good evening, Mr Eka?
Aku      : Good evening, Mam?
Lecture : Sit down please. You must be a first child, right?

Aku      : No, mam. I…ehm…singkatan itu bahasa inggrisnya apa yah ? (dgn wajah kecut, sambil pegang-pegang hidung).. :)
Lecture : Abbreviation.
Aku      : oh, yes. (oral test-pun berlanjut)

atau ini :

Kamu  : Kamu anak pertama yah?
Aku    : (aku tertawa)
Kamu  : Kenapa tertawa?
Aku    : Pertanyaan itu sudah sering aku dengar. Aku anak kedua. Eka itu
adalah kepanjangan nama orangtua ku. Bukan penanda untuk anak pertama.
Kamu : oh…gt (dengan tertawa)

Pada saat orang mulai mengenal aksara, maka ia menamai apa yang dilihat. Tidak hanya itu, dalam keyakinan yang aku percaya, nama adalah sebuah doa, harapan dan cita-cita dari yang memberi. Begitulah kata orang-orang bijak.

Aku memiliki dua nama resmi . Pertama; Eka Muhammad An Aqimuddin. Ini adalah pemberian resmi dari orangtua ku. Kedua; Eka An Aqimuddin. Kalau yang ini pemberian dari negara sebab jika tetap dibubuhkan Muhammad, maka akan terlalu panjang katanya.

Aku juga memiliki dua nama panggilan. Pertama; Dindin. Nama ini hanya diketahui oleh teman-teman TK dan SD-ku dulu. Kedua; Eka. Beranjak SMP aku merasa nama panggilan Dindin kok kurang modern yah :) makanya sejak saat itu aku resmi memperkenalkan diri dengan panggilan EKA.

Sejak kecil aku hanya diceritakan bahwa Eka diambil dari singkatan nama orangtua ku. (nampaknya keahlian membuat singkatan nama adalah salah satu keahlian ibu ku. Banyak sekali singkatan yang ia hasilkan, Renndika dan Niji misalnya). Muhammad pasti banyak yang sudah mahfum tetapi asal dan arti kata An Aqimuddin masih tetap misteri hingga aku dewasa. Ayahku lupa dimana ia mengutip kata itu, tapi yang pasti –katanya–itu diambil dari bahasa Arab.

Orang-orang pasti bermasalah menyebutkan nama lengkapku. Perihal itulah yang membuatku agak malas untuk menuliskan nama secara lengkap, daripada salah ucap lebih baik cukup Eka saja dan mulailah pertanyaan-pertanyaan itu muncul. “anak pertama yah?” :(
Akhirnya, nama ku menjadi paripurna. Suatu saat ia –ayahku– berteriak kepada ku.
Ayah   : “nama mu ternyata ada di alquran.”
Aku     : “mana?”
Ayah   : “ini (sambil menunjuk ayat 13 surat as-syura).
Aku    : “artinya?
Ayah   : (sambil melihat terjemahan versi departemen agama) ” penegak
agama!”
Aku     : (mesam-mesem) “wah berat sekali artinya.”

ternyata ia benar, bahwa namaku dia kutip dari alquran. Aku suka dengan pemberian nama itu. Beda dari yang lain,yah meski agak sulit pengucapannya dan berat doanya :)
Kalau nama kalian, pasti ada ceritanya masing-masing.

terima kasih yah…atas pemberian namanya.

carpe diem

Comments (1) »