Malam kian larut, sementara perut minta diisi, padahal kami harus tetap terjaga untuk menjadi saksi sebuah peristiwa sejarah. Untuk itu kami bergegas demi memenuhi kebutuhan dasar sebagai makhluk hidup. Sebuah warung nasi goreng cukuplah bagi kami.
Aku dan seorang sahabat membicangkan banyak hal malam itu. Derasnya obrolan membawa kami pada satu arus yakni membicangkan relasi. Dia berkisah tentang satu-dua teman kami semasa sekolah dulu yang kecewa atas relasi yang mereka jalani. “Mereka dikhianati”, imbuh sahabatku. Aku cukup kaget. Belum lama seorang sahabatku juga dikhianati, dan kini kabar itu datang lagi. Soalnya bagiku adalah pengkhianatan merupakan dosa utama dan terutama dalam sebuah relasi.
Bingkai wacana saat ini yang berkembang adalah pengkhianatan atau selingkuh selalu dilekatkan pada gender tertentu, yaitu laki-laki. Aku pun hampir saja terjebak dalam lubang yang sama. Akan tetapi peristiwa yang terjadi pada sahabatku dan satu-dua temanku memberikan data empirik yang berbeda. Selingkuh tidak dapat diidentikkan dengan jenis kelamin tertentu. Tiap jenis kelamin memiliki potensi yang sama.
Aku percaya bahwa tiap manusia punya potensi yang sama untuk berbuat baik atau berbuat buruk. Tidak peduli dia laki-laki atau perempuan. Selingkuh, yang aku anggap sebagai sebuah keburukan dan kesalahan, juga bisa dilakukan oleh laki-laki maupun perempuan. Jika demikian, kenapa citra buruk tersebut seolah melekat pada laki-laki saja?
Fenomena ini dapat disebut sebagai sesat-pikir. Sesat-pikir secara sederhana dapat diartikan sebagai kesalahan logika dalam mengambil sebuah kesimpulan. Dalam kasus di atas, yang menjadi sesat-pikirnya adalah menilai keseluruhan dengan contoh sebagian. Beberapa peristiwa disimpulkan sebagai kepastian. Istilah umumnya adalah generalisasi berlebih (over-generalisation). Memang terdapat fakta bahwa beberapa laki-laki memang sering melakukan perselingkuhan, tetapi publik terkadang, jika disuguhkan cerita itu, mengambil kesimpulan untuk keseluruhan. Jika cerita itu dikabarkan kepada seorang perempuan, hampir semuanya berpendapat dengan ketus, “laki-laki dimana-mana emang begitu!”. dan apabila yang dimintai pendapat kepada laki-laki, sebagian besar mereka akan senyum-senyum kecil, seolah sesuatu yang alamiah.
Sesat-pikir ini semakin akut ketika wacana tersebut disalurkan melalui beragam media, seperti film, musik, teater dan yang lainnya. Aku sendiri, secara pribadi, sering memprotes jika ada orang yang melekatkan perselingkuhan dengan jenis kelamin. Selain merupakan sesat-pikir, perselingkuhan bagiku juga adalah sesat-laku.
Baik dan Buruk merupakan sesuatu yang melekat dalam kehidupan kita. Dan aku percaya, bahwa kriteria baik dan buruk bisa berubah sesuai konteksnya, tapi tidak untuk benar dan salah. Benar dan salah adalah absolut.
Relasi bagiku adalah sebuah janji. Dan layaknya janji di peradaban manapun, harus ditaati oleh para pihak yang membuatnya (pacta sun servanda). Selingkuh, bagiku, adalah pengkhianatan terhadap janji karena dalam relasi dibutuhkan sebuah kesetiaan. Apabila salah seorang menjalani hubungan dengan orang lain selama masa berhubungan, hampir semua orang dapat menyimpulkan bahwa ia telah berselingkuh. Ia telah melakukan perbuatan yang salah. Akan tetapi setiap orang akan memberikan reaksi yang berbeda; memaklumi, menyesalkan atau bahkan menghujat dan menghakimi, itu perihal pilihan. Bagiku, ia telah sesat-laku, tersesat dalam perilaku yang salah.
Kesulitan yang kami hadapi selama obrolan adalah bagaimana menenggarai pasangan kita telah berselingkuh? Kisah temanku, cukup sekali saja ia mendapati pasangannya jalan dengan teman lelakinya, ia kemudian memutuskan bahwa pasanganya telah berselingkuh dan segera mengakhiri relasi mereka pada saat itu juga. Aku mengajukan protes terhadap cerita itu, “mengapa ia langsung memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka? toh bisa saja jika pasangannya itu ternyata hanya jalan dengan sahabat atau temanya?”. “Ia mengambil putusan tersebut setelah mendapat beberapa indikasi, seperti pasanganya mulai berani pulang malam.” Jawab sahabatku. Ah, alangkah sederhanya indikasi tersebut, gumamku. Kemudian aku cecar lagi sahabatku. “Bagaimana kemudian kita menenggarai indikasi-indikasi pihak yang telah berselingkuh dalam sebuah relasi?”. Kali ini, sahabatku hanya tersenyum.
Perbicangan kami pun terputus sampai di situ sebab peristiwa sejarah yang kami nanti akan segera dimulai.
carpe diem.